Tim peneliti dari Institut Teknologi Sawit Indonesia berhasil mengembangkan inovasi bernama “PULER” (Pupuk Abu Boiler), sebuah teknologi berbasis limbah padat pabrik kelapa sawit yang berfungsi sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman di perkebunan kelapa sawit. Inovasi ini merupakan implementasi nyata dari Sustainable Development Goals (SDG’s) ke-12, yaitu Responsible Consumption and Production atau konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Penelitian yang dilaksanakan melalui Program Dana Padanan 2025 ini diketuai oleh Ika Ucha Pradifta R., S.ST., M.Si., dengan anggota peneliti Rina Maharany, Tifany Zia Aznur, Aulia Juanda Djaingsastro, Delyana Rahmawany Pulungan, Dina Arfianti Saragih, Ritna Wahyuni, dan Saroha Manurung dan bermitra dengan PT. Sahabat Sejati Setia Selalu, sebuah Perusahaan kelapa sawit swasta yang berlokasi di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Dalam industri kelapa sawit, limbah padat seperti tandan kosong, cangkang, dan serat buah sering kali menjadi permasalahan lingkungan karena volumenya yang besar dan potensi pencemaran jika tidak dikelola dengan baik. Melalui inovasi PULER, tim peneliti berupaya mengubah permasalahan tersebut menjadi peluang.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah bagi industri perkebunan. Dengan PULER, limbah padat pabrik kelapa sawit dapat diolah menjadi pupuk organik yang kaya unsur hara dan membantu memperbaiki struktur tanah di lahan perkebunan,” ujar Ika Ucha Pradifta R., ketua tim peneliti.
Penelitian ini menjadi bagian penting dalam upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) ke-12, yakni mendorong efisiensi penggunaan sumber daya alam dan mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan. Penerapan PULER di lapangan diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus mendukung praktik pertanian berkelanjutan.

“Kami melihat potensi besar dari limbah sawit jika dikelola dengan teknologi yang tepat. Pendekatan ini bisa membantu perusahaan perkebunan mengurangi emisi dan biaya pengelolaan limbah,” tambah Saroha Manurung anggota tim peneliti.
Selain berdampak positif terhadap lingkungan, inovasi ini juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik bernilai jual dapat membuka peluang usaha baru di sektor hilir industri kelapa sawit. “Hasil riset ini tidak berhenti di laboratorium. Kami tengah menjajaki peluang kolaborasi dengan pihak industri agar PULER bisa diimplementasikan secara luas,” ungkap Tifany Zia Aznur, salah satu anggota tim.
Melalui riset ini, tim peneliti menunjukkan bahwa penerapan prinsip circular economy dalam industri kelapa sawit bukan hanya memungkinkan, tetapi juga menguntungkan. Inovasi PULER menjadi langkah nyata menuju sistem produksi yang efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Penelitian ini juga menjadi bukti sinergi antara dunia akademik, industri, dan pemerintah dalam mendukung pencapaian target SDG’s 2030 melalui inovasi berbasis sains dan teknologi (TZA).






